Tepas

Jumat, 28 September 2012

Dangiang Aksara Sunda

NGABAGEAKEUN DIGUNAKEUNANA KALAWAN RESMI AKSARA SUNDA DI SAKULIAH TATAR JAWA BARAT - (ka-1)
Numutkeun pedaran :

- Aksara/Basa Kawi - Aksara Arab/ Fenomenologi Al Qur’an -

- Aksara Arab tina Hakikat Lafadz ALLAH - Aksara Latin -
Ku : H.R. Hidayat Suryalaga

PURWACARITA
Palaturan Daerah (Perda) No.5 taun 2003 nu ditetepkeun ku pamarentah Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Barat, ngadefinisikeun yen “Aksara Sunda adalah sistem ortografi hasil kreasi masyarakat Jawa Barat yang meliputi Aksara dan sistem pengaksaraan untuk menuliskan Bahasa Sunda”. Hasil modifikasi garapan Tim Pengkajian Aksara Sunda dina ieu Loka Karya teh madoman kana:
  1. Bentuknya mengacu kepada Aksara Sunda Kuna, sehingga keasliannya terjaga.
  2. Bentuknya sederhana sehingga mudah dituliskan.
  3. Sistem penulisannya berdasarkan pemisahan kata demi kata.
  4. Ejaannya mengacu kepada Bahasa Sunda mutakhir sehingga mudah dibaca.
  5. Memperhatikan unsur keindahan (estetika) sehingga kelak disenangi oleh pemakainya dan bisa dilukiskan kaligrafinya (tulisan indah)
  6. Daftar abjad diperkaya dengan khazanah kosa kata Bahasa Sunda mutakhir.
  7. Tanda bacanya menggunakan tanda baca yang berlaku untuk menuliskan Bahasa Sunda dengan aksara Latin.
  8. Dimungkinkan ditulis dengan menggunakan alat cetak modern, seperti mesin tik, mesin cetak, komputer.
(Dicutat tina makalah RANCANGAN PEMBAKUAN AKSARA SUNDA, nu disusun ku A. Sobana Hardjasaputra, Tedi Permadi, Undang A. Darsa, Edi S. Ekadjati - Bandung, 1998)

PANGWUWUH PADOMAN AKSARA SUNDA
Nitenan padoman di luhur, ceuk pangemut aya nu peryogi diwuwuhan deui nyaeta:
  1. Abjad Aksara Sunda disusun menurut kaidah Aksara Sunda Kuna, dan susunan abjad tambahannya disesuaikan dengan susunan abjad huruf latin sebagai sumber induknya.
  2. Susunan abjad Aksara Sunda tersebut harus mengandung makna filsafat sebagai wahana pandangan hidup masyarakat Sunda.
SUSUNAN (ABJAD AKSARA SUNDA)
Pikeun mertelakeun No.10 di luhur, Susunan Abjad Aksara Sunda teh bakalna:
(Sumber : Makalah Undang A. Darsa, Drs. M. Hum; Aksara Sunda dan Sistem Tulisnya)
  • AKSARA NGALAGENA (SILABIK)

    KA GA NGA

    CA JA NYA

    TA DA NA

    PA BA MA

    YA RA LA WA SA HA

    SYA KHA FA QA VA XA ZA
  • AKSARA SWARA (VOKAL)

    a - i - u - e - o - E - eu
  • SWARA BAKTI (VOKALISASI)

    panghulu ( i ), paneleng (e), pamepet (E), paneuleung (eu), panolong (o), panyuku (u), pangwisad (+h), panglayar (+r), pamingkal (+ya), panyiku (+la) panyecek (+ng), panyakra (ra), pamaeh (0)
  • FUNGTUASI (TANDA BACA)

    , koma   . titik/peun   ; titik-koma   : titik-dua   ! panyeluk   ? pananya   ” kekenteng   - panyambung   ( ) kurung
  • ANGKA

    0 - 1 - 2 - 3 - 4 - 5 - 6 - 7 - 8 - 9
Jadi sebenarnya Dangiang Aksara Sunda adalah aturan dan rincian yang ada di Aksara Sunda baku :)

Selasa, 29 Mei 2012

Watu Gilang atau Batu Palangka Sriman Sriwacana

watu gilang

Mungkin banyak orang Sunda yang tidak mengetahui bahwa masih ada peninggalan dari Kerajaan Pakuan Pajajaran yang hampir tidak akan lagi ditemukan sisanya meski kemungkinan itu ada. Salah satu peninggalan itu adalah Palangka Batu Sriman Sriwacana atau sering disebut Watu Gilang yang dalam bahasa Sunda berarti Batu yang berkilau.

Batu ini merupakan pangcalikan atau tempat duduk sewaktu Raja-Raja Sunda dilantik menjadi Penguasa. Batu ini sudah dikisahkan di dalam Carita Parahiyangan yaitu:
Sang Susuktunggal inyana nu nyieuna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji d i Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana Pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata. 

Yang berarti: 
"Sang Susuktunggal ialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana untuk Sri Baduga Maharaja, Ratu penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di Keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati yaitu istana Sanghiyang Sri Ratu Dewata"

Batu ini setidaknya masih berada di Pakuan Pajajaran sampai tahun 1579 sampai Pasukan Panembahan Yusuf atau Maulana Yusuf membawa batu ini dari Pakuan ke Surosowan di Banten. Tradisi politik ini yang mengharuskan demikian. Karena dengan dirampasnya batu ini maka Pakuan Pajajaran tidak akan mungkin lagi menobatkan raja baru, selain itu dengan memiliki Watu Palangka ini, Maulana Yusuf dianggap sebagai penerus kekuasaan Pajajaran yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri dari Sri Baduga Maharaja
 
Kata Palangka secara umum berarti tempat duduk (pangcalikan). Bagi raja berarti Tahta. Dalam hal ini adalah Tahta Nobat, yaitu tempat duduk khusus yang hanya digunakan pada upacara penobatan. Di atas Palangka yang berada di Kabuyutan itulah seorang calon raja diberkati (diwastu) oleh pendeta tertinggi. Sesuai dengan tradisi, tahta itu terbuat dari batu dan digosok sehingga halus dan mengkilap. Batu Tahta seperti ini oleh penduduk biasanya disebut Batu Pangcalikan atau Batu Ranjang, bila dilengkapi dengan kaki seperti balai-balai biasa.

Palangka Sriman Sriwacana sendiri saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surasowan Banten. Karena bentuknya yang mengkilap, orang Banten menyebutnya Watu Gilang, yang berarti Batu yang mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.

Itulah setidaknya sedikit deskripsi dari Watu ini karena Masyarakat Banten hususnya tidak tahu apa sebenarnya Watu Gilang sampai ada yang menyebutkan bahwa Watu Gilang itu adalah kuburan tua.