Tepas

Sabtu, 21 Desember 2013

Korea Selatan 2013

안녕 하세요..!!

Lama sudah gak nulis di blog ini, saat ini lagi gegap gempitanya SEA Games 2013 Myanmar. Dan sejauh ini masih tetep ya hasilnya di peringkat empat. Terus nih, ngomong-ngomong peringkat empat jadi keingetan sama bulan September - Oktober lalu.
Alhamdulillah dengan doa dan kerja keras serta kesungguhan, tahun ini kembali diberi kesempatan untuk berinteraksi lagi dengan orang-orang yang luar biasa di Negeri Gingseng di tahun 2013. Tahun lalu fokusnya di Pyeongtaek dan Seoul. Tahun ini alhamdulillahnya bisa lebih merambah pelosok dan banyak hiburannya.
Diceritakan pada saat itu saya mengikuti sebuah festival dan sebuah perlombaan. Kegiatan itu dilaksanakan di beberapa Kota yaitu:
1. Sancheon,
2. Hapcheon,
3. Cheonan (hampir ngubek-ngubek semua tempat ramainya), dan
4. Seoul (Myongdong, Namdaemun, dan Dongdaemun).

Tahun ini saya ga diributkan oleh Passport dan Visa soalnya saya sekarang lebih prepare karena keharusan kesiapan untuk kejuaraan tersebut. Dan denga niatnya saya membuat baju adat sendiri demi kenyamanan disana. Oh ya kebetulan di Korea saat saya mau kesana ternyata musimnya akhir musim gugur dan awal musim dingin. Ini yang saya ga prepare. Kurang banyak bawa baju hangat, tapi itu ga melunturkan semangat saya.
Tips 1: kalau berniat ke Korea alangkah baiknya kalian check kurs di HanaBank jangan di Indonesia. Baiknya 1/4 uang kalian boleh di tukar di Indonesia selebihnya saya sarankan di Korea. Pas keluar Bandar Udara Incheon kalian bakal nemu kios-kios kecil di sana. Kalian tau, disini 1000 won = 11.000 rupiah di Korea 1000 won = 7.700 rupiah. Jadi alangkah baiknya kalian check terlebih dahulu kurs di HanaBank atau CitiBank selain itu adalah bank asal Korea, setidaknya hemat uang juga kan?

Yang pertama di Sancheon dan Hapcheon kami mengikuti kegiatan Tripitaka Festival. Kebetulan di dua tempat ini hanya diselenggarakan parade dan single performance tanpa kejuaraan. Di dua tempat ini kami bertemu dengan kawan dari Taiwan dan Singapura. Disini (Hapcheon) kami festival tanpa penonton dan itu bener-bener wasting time banget. Kami sempat kesal dengan panitia, namun kekesalan kami terobati dengan adanya parade di Sancheon lalu kembali perform di Hapcheon. Lalu esoknya perform di atas panggung. Dan diakhiri dengan Tracking menuju Buddha Temple Hein Sa yang katanya temple buddha pertama (bocoran, orang korea seneng banget menyebut mereka yang pertama). Selama kami di festival pertama hampir setiap hari diguyur hujan dari mulai sedang sampai berat dengan suasana pagi yang diselimuti kabut. Karena hujan tiap hari, akhirnya mau ga mau baju kita dicuci dan karena kami gak pernah ketemu sama matahari, jdinya kami ngeringin baju dengan hair dryer hahahahaha. Oh iya, tempat kami menginap yaitu Gaya San Hotel. Dekat dengan National Park.
Tips 2: kalian bener-bener harus prepare segala macem termasuk perhitungan musim. Alangkah baiknya kalau kalian kebetulan berangkat dipenghujung musim gugur, baiknya prepare payung atau raincoat. Juga bekal ganti sepatu atau sandal.

Selanjutnya tibalah kami di acara Cheonan World Dance Festival 2013. Bertempat di Cheonan dan Seoul. Hurricane Hotel adalah tempat persinggahan kami menghadapi kejuaraan tahunan ini. Kebetulan saat itu ada belasan negara yang ikut ajang ini, diantaranya:
1. Korea Selatan (sebagai tuan rumah sekaligus peserta namun diikutsertakan dalam kejuaraan tuan rumah)
2. Indonesia 1
3. Indonesia 2
4. Jepang 1
5. Jepang 2
6. Mexico 1
7. Mexico 2
8. Philiphine
9. Taiwan
10. China
11. India
12. Poland
13. Czech
14. France
15. Buryatia
16. Bashkortostan
17. Malaysia
18. Singapura
19. Guam
Disini kami melalui beberapa tahap, yaitu Opening Ceremony, Parade, Penyisihan 10 menit, kunjungan dan pengenalan budaya, dan Final sekaligus Closing Ceremony.
Parade dilaksanakan dua kali di Cheonan dan satu kali di Myongdong, Seoul. Dan hasil dari jerih payah kami, dihargai dengan peringkat empat. Dan semua diobati dengan tracking menuju Namsan Tower, belanja di Namdaemun, serta bertukar cinderamata termasuk saya mendapat syal dari entah itu Buryatia atau France entahlah saya lupa hahahaha. Setiap hari suhu disini hampir tak lebih dari 14 derajat bahkan bisa sampai 4 derajat. Mungkin Bandung dan Puncak Bogor pun kadang tidak sampai segitu. Hahaha

Sekelumit kisah dari Korea Selatan, entah kenapa jadi bertekad balik lagi kesana. Untuk foto menyusul! Hehehe

Minggu, 20 Januari 2013

Topeng Panji


Topeng Cirebon merupakan kesenian khas yang berasal dari Cirebon (atau Indramayu) percabangan dari seni tari. Topeng Cirebon merupakan khasanah budaya Cirebon yang sangat kental dengan filosofi hidup dan realita watak kehidupan manusia. Pada zaman Kerajaan Majapahit antara 1300 dan 1400 Masehi kesenian topeng sangat digandrungi sebagaitarian untuk raja. Lalu pada tahun 1525 pasca runtuhnya kerajaan Majapahit, kesenian ini dilanjutkan oleh Sultan Demak dengan titik penyebarannya hingga Kasultanan Cirebon.

Dalam prakteknya sebenarnya Topeng Cirebon menampilkan hampir 5 penampilan dalam setiap pertunjukkan bukan hanya satu tarian. Struktur kehidupan dan realita watak manusialah yang mendasari penciptaan Topeng Cirebon yang tersusun dari Panji, Pamindo, Rumyang, Patih dan Klana. Untuk saat ini saya akan membahas tentang Panji.

Panji merupakan Topeng Cirebon paling pertama ditampilkan. Hikayat Panji mencerminkan bersatunya empat kerajaan dari segala penjuru: Kerajaan Singasari (Utara), Kerajaan Blambangan (Timur), Gegelang (Barat), dan Daha (Selatan). Panji sendiri sebenarnya berasal dari kata siji, yang dalam bahasa Jawa berarti satu. Ia adalah gambaran bayi yang baru lahir ke dunia, figur dewa dan raja, sekaligus cermin dari sublimasi kewibawaan, ketenangan, yang berada di pusat atau tengah. Tariannya cenderung diam atau statis, tetapi diiringi suara musik yang hingar-bingar, hingga disebut sebagai tarian dan karakter yang penuh dengan nilai-nilai paradoksial.

Dalam aspek ornamennya, motif dan hiasan terlihat pada rupa topeng pada umumnya berupa stilasi bunga-bunga dan sulur-sulur seperti kembang kliyang atau bunga tiba, yang berada di tengah-tengah dahi, diatas alis, dan disebut urna. Urna ini hanya terdapat di Panji dan Patih. Keadaan topeng Panji sebagai karakter pertama sekaligus pusat, arah muka dari samping memperlihatkan kondisi yang cenderung menunduk dan luruh. Dikatakan bahwa Panji merupakan sosok paling suci yang berada di alam ruhani dari surga, di pusat, yang mewakili semua sifat yang ada di empat penjuru mata angin. Sosok seperti ini dianggap sebagai tingkatan keimanan tertinggi manusia, yang secara hierarkis merupakan dunia ruhani dan jasmani. Arah wajah panji yang merunduk adalah pertanda bahwa ia sedang atau akan turun dari alam surgawi menuju alam manusia, dan kedatangannya bersifat sakral. Dalam penampangannya, Panji memiliki mata yang terlihat kecil, menyipit, cenderung melipat ke bawah dan bola matanya pun hanya sedikit terlihat bentuk matanya bisa disebut liyep. Menunjukkan tingkat kesempurnaan sosoknya, dan tatapan matanya yang mengarah ke bawah menyiratkan keberadaannya yang berasal dari dunia atas tetapi telah hadir pula di dunia bawah. Hidung Panji digambarkan lurus, kecil dan lancip. Karena semakin membesar bentuk hidungnya, dan semakin mancung, mengarah kedepan dengan posisi mendongak, itu semakin mendekati karakter yang gagah atau kuat. Mulut dan bibir panji bisa dilihat lebih tipis, dalam kondisi tersenyum, tertutup, dengan barisan gigi yang terlihat sedikit.

Dalam warna sebenarnya sudah umum jika kita melihat warna-warna gelap sedikit menciptakan suasana yang negatif, sedangkan jika kita berbicara warna terang akan menciptakan suasana positif dan bernilai kebaikan. Panji yang berwarna putih melambangkan kebaikan, kesucian, berasaskan alam surgawi, tenang, jujur dan tidak mementingkan dirinya sendiri. Ini berasaskan pula pada konsepsi orang Sunda yang mengenal Buana Panca Tengah yang mengadopsi perlambangan dari alam dan arah mata angin, putih adalah warna buana atas. Gerakan-gerakan kecil pada tari panji lebih merefleksikan perilaku waspada dan perilaku manusia yang baru lahir.

Jumat, 28 September 2012

7 days were amazing.

2012 PYEONGTAEK INTERNATIONAL ART PERCUSSION

First day @ South Korea
Second day Pyeongtaek Festival


 Last Dinner @ Pyeongtaek Festival





Seoul Tower (Namsan Tower)
 


@Guest House

 Incheon Airport

Dangiang Aksara Sunda

NGABAGEAKEUN DIGUNAKEUNANA KALAWAN RESMI AKSARA SUNDA DI SAKULIAH TATAR JAWA BARAT - (ka-1)
Numutkeun pedaran :

- Aksara/Basa Kawi - Aksara Arab/ Fenomenologi Al Qur’an -

- Aksara Arab tina Hakikat Lafadz ALLAH - Aksara Latin -
Ku : H.R. Hidayat Suryalaga

PURWACARITA
Palaturan Daerah (Perda) No.5 taun 2003 nu ditetepkeun ku pamarentah Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Barat, ngadefinisikeun yen “Aksara Sunda adalah sistem ortografi hasil kreasi masyarakat Jawa Barat yang meliputi Aksara dan sistem pengaksaraan untuk menuliskan Bahasa Sunda”. Hasil modifikasi garapan Tim Pengkajian Aksara Sunda dina ieu Loka Karya teh madoman kana:
  1. Bentuknya mengacu kepada Aksara Sunda Kuna, sehingga keasliannya terjaga.
  2. Bentuknya sederhana sehingga mudah dituliskan.
  3. Sistem penulisannya berdasarkan pemisahan kata demi kata.
  4. Ejaannya mengacu kepada Bahasa Sunda mutakhir sehingga mudah dibaca.
  5. Memperhatikan unsur keindahan (estetika) sehingga kelak disenangi oleh pemakainya dan bisa dilukiskan kaligrafinya (tulisan indah)
  6. Daftar abjad diperkaya dengan khazanah kosa kata Bahasa Sunda mutakhir.
  7. Tanda bacanya menggunakan tanda baca yang berlaku untuk menuliskan Bahasa Sunda dengan aksara Latin.
  8. Dimungkinkan ditulis dengan menggunakan alat cetak modern, seperti mesin tik, mesin cetak, komputer.
(Dicutat tina makalah RANCANGAN PEMBAKUAN AKSARA SUNDA, nu disusun ku A. Sobana Hardjasaputra, Tedi Permadi, Undang A. Darsa, Edi S. Ekadjati - Bandung, 1998)

PANGWUWUH PADOMAN AKSARA SUNDA
Nitenan padoman di luhur, ceuk pangemut aya nu peryogi diwuwuhan deui nyaeta:
  1. Abjad Aksara Sunda disusun menurut kaidah Aksara Sunda Kuna, dan susunan abjad tambahannya disesuaikan dengan susunan abjad huruf latin sebagai sumber induknya.
  2. Susunan abjad Aksara Sunda tersebut harus mengandung makna filsafat sebagai wahana pandangan hidup masyarakat Sunda.
SUSUNAN (ABJAD AKSARA SUNDA)
Pikeun mertelakeun No.10 di luhur, Susunan Abjad Aksara Sunda teh bakalna:
(Sumber : Makalah Undang A. Darsa, Drs. M. Hum; Aksara Sunda dan Sistem Tulisnya)
  • AKSARA NGALAGENA (SILABIK)

    KA GA NGA

    CA JA NYA

    TA DA NA

    PA BA MA

    YA RA LA WA SA HA

    SYA KHA FA QA VA XA ZA
  • AKSARA SWARA (VOKAL)

    a - i - u - e - o - E - eu
  • SWARA BAKTI (VOKALISASI)

    panghulu ( i ), paneleng (e), pamepet (E), paneuleung (eu), panolong (o), panyuku (u), pangwisad (+h), panglayar (+r), pamingkal (+ya), panyiku (+la) panyecek (+ng), panyakra (ra), pamaeh (0)
  • FUNGTUASI (TANDA BACA)

    , koma   . titik/peun   ; titik-koma   : titik-dua   ! panyeluk   ? pananya   ” kekenteng   - panyambung   ( ) kurung
  • ANGKA

    0 - 1 - 2 - 3 - 4 - 5 - 6 - 7 - 8 - 9
Jadi sebenarnya Dangiang Aksara Sunda adalah aturan dan rincian yang ada di Aksara Sunda baku :)

Selasa, 29 Mei 2012

Watu Gilang atau Batu Palangka Sriman Sriwacana

watu gilang

Mungkin banyak orang Sunda yang tidak mengetahui bahwa masih ada peninggalan dari Kerajaan Pakuan Pajajaran yang hampir tidak akan lagi ditemukan sisanya meski kemungkinan itu ada. Salah satu peninggalan itu adalah Palangka Batu Sriman Sriwacana atau sering disebut Watu Gilang yang dalam bahasa Sunda berarti Batu yang berkilau.

Batu ini merupakan pangcalikan atau tempat duduk sewaktu Raja-Raja Sunda dilantik menjadi Penguasa. Batu ini sudah dikisahkan di dalam Carita Parahiyangan yaitu:
Sang Susuktunggal inyana nu nyieuna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji d i Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana Pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata. 

Yang berarti: 
"Sang Susuktunggal ialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana untuk Sri Baduga Maharaja, Ratu penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di Keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati yaitu istana Sanghiyang Sri Ratu Dewata"

Batu ini setidaknya masih berada di Pakuan Pajajaran sampai tahun 1579 sampai Pasukan Panembahan Yusuf atau Maulana Yusuf membawa batu ini dari Pakuan ke Surosowan di Banten. Tradisi politik ini yang mengharuskan demikian. Karena dengan dirampasnya batu ini maka Pakuan Pajajaran tidak akan mungkin lagi menobatkan raja baru, selain itu dengan memiliki Watu Palangka ini, Maulana Yusuf dianggap sebagai penerus kekuasaan Pajajaran yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri dari Sri Baduga Maharaja
 
Kata Palangka secara umum berarti tempat duduk (pangcalikan). Bagi raja berarti Tahta. Dalam hal ini adalah Tahta Nobat, yaitu tempat duduk khusus yang hanya digunakan pada upacara penobatan. Di atas Palangka yang berada di Kabuyutan itulah seorang calon raja diberkati (diwastu) oleh pendeta tertinggi. Sesuai dengan tradisi, tahta itu terbuat dari batu dan digosok sehingga halus dan mengkilap. Batu Tahta seperti ini oleh penduduk biasanya disebut Batu Pangcalikan atau Batu Ranjang, bila dilengkapi dengan kaki seperti balai-balai biasa.

Palangka Sriman Sriwacana sendiri saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surasowan Banten. Karena bentuknya yang mengkilap, orang Banten menyebutnya Watu Gilang, yang berarti Batu yang mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.

Itulah setidaknya sedikit deskripsi dari Watu ini karena Masyarakat Banten hususnya tidak tahu apa sebenarnya Watu Gilang sampai ada yang menyebutkan bahwa Watu Gilang itu adalah kuburan tua.

Prabu Siliwangi. SAHA??

Pajajaran tilas Siliwangi 
Wawangina kasilih jenengan 
Kiwari dayeuhna Bogor 
Batu tulis kantun 
Kantun liwung jaradi pikir 
Mikiran tulisanana 
Henteu surud liwung 
Teuteuleuman kokojayan 
Di Ciliwung nunjang ngidul, 
Siliwangi Nuus di Pamoyanan. 
(Kalipah Apo/R.H.M. Syu’éb) 

            Teu salah lamun Kalipah Apo nyebatkeun yén rasiah Batutulis di Bogor nepi ka kiwari masih can bias kabokér kabéh. Boh aksara boh basana.Teras di kalimah-kalimah nu dicarioskeun ku Kalipah Apo téh nyebatkeun Siliwangi dua kali. Ari Siliwangi téh saha sabenerna?

Ulikan dina naskah Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian anu ditulis di taun 1518 M nyabit-nyabit jenengan Siliwangi. Tapi dina nyabit-nyabitna ogé lain nyaritakeun ngeunaan sajarah atawa biografi saha ari Prabu Siliwangi. Di naskah éta ngan nyebatkeun Siliwangi mangrupa salasahiji lalakon pantun.Teu diterangkeun ogé leunjeuranna kumaha. Dina taun 1965, Amir Sutaarga anu harita jadi Direktur Museum Pusat ngayakeun ceramah di Bandung ngeunaan tokoh Siliwangi. Nurutkeun hasil panalungtikanna, tokoh Siliwangi anu kamashur dina kasusastraan Sunda téh saenyana idéntik (sarua) jeung tokoh historis Sri Baduga Maharaja anu kaunggel dina prasasti Batutulis di Bogor. Tapi di masarakat Jawa Barat sorangan geus ngadaging getih ku pamadeganna Poerbatjaraka. Poerbatjaraka nyebutkeun yén Sri Baduga Maharaja atawa nu disebat Siliwangi téh nyaéta Raja Sundaa nu palastra di palagan Bubat. Ngan ku Amir di sanggah kalawan nyebatkeun “sangat rapuh” bukti nu di sebatkeun ku Poerbatjaraka (Handjuang No. 11).Tiori Poerbatjaraka ngan gumantung kana tapsiran hiji kecap rancamaya anu ceunah saharti jeung kecap kalawisaya. Nurutkeun naskah Carita Parahyangan, anu dipaké sumber ku Poerbatjaraka, Raja anu angkat ka Majapahit rék nikahkeun putra istrina mah nyaéta Prabu Maharaja, ramana Wastu Kancana. Ari Ratu Jayadéwata (Sri Baduga) kapan putuna Wastu Kancana. Prabu Maharaja disebutkeun “keuna ku kalawisaya”; ari Sri Baduga Maharaja disebutkeun Sang mwakta ring Rancamaya (nu sumaré di Rancamaya). Lamun enya Rancamaya sarua jeung Kalawisaya, hartina tiori Poerbatjaraka bias dianggap bener.Tapi, nangtukeun hiji tokoh teu bias sagawayah sabab hiji kecap. Masih loba nu kudu ditalungtik. Kabuktian yén rancamaya mangrupa ngaran hiji tempat komo mun geus ditambahan Sanghyang mah, tangtu béda harti jeung kecap Kalawisaya nu hartina nya éta gawé hianat. Saha baé anu maca majalah TBG No. 49 ngeunaan De Batoe-toelisbij Butenzorg, bakal ngarasa yén tiori Porbatjaraka téh maksakeun pisan. Dina koropak 410, Siliwangi téh disebutna Ratu Pakuan. Di antara garwana anu disebutkeun pindah ti Dalem Timur Kadaton Wétan ka Pakuan disebutkeun Ambetkasih jeung Subanglarang. Dina Purwaka Caruban jeung babad séjénna, Ambetkasih jeung Subanglarang téh geureuhana Siliwangi. Koropak 410 anu disebut Carita Ratu Pakuan nuduhkeun kénéh, yén Siliwangi téh asalna ti KadatonWétan (tangtuna ge ti Karaton Surawisésa di Kawali) jeung katelah Ratu Pakuan. Dina jaman Siliwangi agama Islam geus sumebar di Pajajaran. Dina Carita Parahyangan ogé disebutkeun, jaman ratu Jayadéwata ra’yat Pajajaran réa nu geus garanti agama. Anu puguh baé, Subanglarang mah agamana Islam. Tétéla didinya tos kabuktian. Sri Baduga Maharaja atawa Jayadéwata atawa Pamanahrasa nya éta Siliwangi. Sabab tos kauninga ku sadayana yén Ambetkasih jeung Subanglarang téh geureuhana Sri Baduga Maharaja atawa Jayadéwata atawa Pamanahrasa nu nyepeng kakawasaan di Pakuan Pajajaran (1482-1521).

            Kedah diperhatoskeun ngeunaan eusi Batutulis di Bogor téh sapertos kieu nurutkeun Saleh Danasasmita (1981-1984):

oo wangna pun inisakakala, preburatupurane pun, diwastu 
diya wngaran prebu guru dewata prana diwastu diya di ngaran sri 
baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran sri sang ratu de- 
wata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang dewa nis- 
kalasa(ng) sidamoka di gunatiga, i(n)cu rahyang niskala wastu 
ka(n) canasa(ng) sidamokta ka nusalarang, ya siya nu nyiyan sakaka- 
la gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sanghyang talaga 
rena mahawijaya, ya siya pun oo i saka, panca pan- 
dawa (m)ban bumi oo 

Terjemahanna: 
“Ahung (mugia salamet), ieu téh pangéling-ngéling Prabu Ratusuargi, diistrénan nganggo jenengan (gelar) Prabu Guru Déwataprana, diistrénan (deui) nganggo jenengan (gelar) Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Déwata. Nya anjeunna nu ngadamel parit (pertahanan) Pakuan.Anjeunna putra Rahiang Déwa Niskala nu surup di Guna Tiga, putu Rahiang Niskala Wastu Kancana nu surup ka Nusa Larang. Nya anjeunna nu ngadamel tanda pangéling-éling (mangrupa) gugunungan ngabalay ngadamel (leuweung) samida, ngadamel Sanghiang Talaga Rena Mahawijaya. Nya anjeunna, (dijieun) dina taun Saka 1455”. 

Sababaraha jasa nu dijieun ku Sri Baduga Maharaja nurut keun tulisan di Batu tulis nya éta:
  1. Nu nyusuk na pakwan, nyieun susukan atawa parit sapanjang 3 kilometer Cisadane; 
  2. Nu nyiyan sakakala gugunungan, nyieun tanda pangéling-ngéling mangrupa gunung-gunungan, nyaéta pasir Badigul di Rancamaya, tempat upacara jeung musarakeun hawu raja-raja nu tangtu; 
  3. Ngabalay, ngaheuraskeun jalan ku watu-watuan nu tangtu ti gerbang Pakuan nepi ka Karaton, salajengna ti gerbang Pakuan ka Rancamaya (7 km); 
  4. Nyiyan samida, ngamumulé jeung ngajaga alas tutupan nu dipelakan ku kai samida (pikeun kapentingan ngahiyangkeun), jeung salaku reservoir alami; sarta 
  5. Nyiyan sanghiyang talaga rena mahawijaya, nyieun talaga nu dibéré ngaran Rena Mahawijaya keur kapentingan pariwisata jeung nyubur keun taneuh (sanggeus bendunganna teu dibenerkeun, salajengna caina nyirorot ngabentuk ranca atawa rawa), jeung ngaranna robah jadi Rancamaya. 


Kalawan sagala rupa kaagungan jasa jeung kadigjayaan karyana, Sri Baduga Maharaja Ratu (H)aji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata, pikeun masarakat Pajajaran (Jawa Barat) teu wasa pikeun nyebutkeun gelarna nu kacida panjangna. Masarakat ngan apal, yén raja sa-agung Sri Baduga Maharaja kungsi aya dina mangsa sateuacanna, nya éta jaman pamaréntahan Prabu Wangi (Prabu Maharaja Linggabuana) jeung Prabu Wangisuta (putera Prabu Wangi: Mahaprabu Niskala Wastu Kancana). Sri Baduga Maharaja ogé (sanggeus Mahaprabu Niskala Wastu Kancana) dianggap silih (gaganti) wangina (kamashurna) raja nu mokténg ing Bubat, nepi ka Amir Sutaarga jeung Saleh Danasasmita sarta masarakat Jawa Barat liana) nganggap Sri Baduga Maharaja éta nya éta kamashur salaku PrabuSilih Wangi atawa Prabu Siliwangi.


Aya sababaraha anu kudu ditandeuskeun nya éta:
  1. Tokoh Siliwangi téh ngan aya hiji. 
  2. Siliwangi jumeneng rajana di Pakuan
  3. Méméh jadi Susuhunan Pajajaran jadi heula Ratu Pakuan lilana 55 taun (1427-1482).
  4. Sebutan Siliwangi téh ku alatan anjeunna ganti gelar (wawangi) waktu diistrénan jadi Susuhunan Pajajaran dina taun 1482.
  5. Tokoh Siliwangi idéntik jeung Sri Baduga Maharaja
  6. Siliwangi pupus dina taun 1521, dipusarakeun di Rancamaya
  7. Dina taun 1512 jeung 1521 Siliwangi ngirimkeun misi dagang ka Malaka nu dikawasa ku Portugis pingpinan Alfonso d’Albouquerque
Paralun kitu gé. Nyanggakeun!

Hana nguni hana mangké, 
tan hana nguni tan hana mangké. 
Aya ma baheula aya tu ayeuna, 
hanteu ma baheula hanteu tu ayeuna. 
Hana tunggak hana watang, 
tan hana tunggak tan hana watang. 
Hana ma tunggulna aya tu catangna. 
_KabuyutanCiburuy_