Tepas

Sabtu, 21 Desember 2013

Korea Selatan 2013

안녕 하세요..!!

Lama sudah gak nulis di blog ini, saat ini lagi gegap gempitanya SEA Games 2013 Myanmar. Dan sejauh ini masih tetep ya hasilnya di peringkat empat. Terus nih, ngomong-ngomong peringkat empat jadi keingetan sama bulan September - Oktober lalu.
Alhamdulillah dengan doa dan kerja keras serta kesungguhan, tahun ini kembali diberi kesempatan untuk berinteraksi lagi dengan orang-orang yang luar biasa di Negeri Gingseng di tahun 2013. Tahun lalu fokusnya di Pyeongtaek dan Seoul. Tahun ini alhamdulillahnya bisa lebih merambah pelosok dan banyak hiburannya.
Diceritakan pada saat itu saya mengikuti sebuah festival dan sebuah perlombaan. Kegiatan itu dilaksanakan di beberapa Kota yaitu:
1. Sancheon,
2. Hapcheon,
3. Cheonan (hampir ngubek-ngubek semua tempat ramainya), dan
4. Seoul (Myongdong, Namdaemun, dan Dongdaemun).

Tahun ini saya ga diributkan oleh Passport dan Visa soalnya saya sekarang lebih prepare karena keharusan kesiapan untuk kejuaraan tersebut. Dan denga niatnya saya membuat baju adat sendiri demi kenyamanan disana. Oh ya kebetulan di Korea saat saya mau kesana ternyata musimnya akhir musim gugur dan awal musim dingin. Ini yang saya ga prepare. Kurang banyak bawa baju hangat, tapi itu ga melunturkan semangat saya.
Tips 1: kalau berniat ke Korea alangkah baiknya kalian check kurs di HanaBank jangan di Indonesia. Baiknya 1/4 uang kalian boleh di tukar di Indonesia selebihnya saya sarankan di Korea. Pas keluar Bandar Udara Incheon kalian bakal nemu kios-kios kecil di sana. Kalian tau, disini 1000 won = 11.000 rupiah di Korea 1000 won = 7.700 rupiah. Jadi alangkah baiknya kalian check terlebih dahulu kurs di HanaBank atau CitiBank selain itu adalah bank asal Korea, setidaknya hemat uang juga kan?

Yang pertama di Sancheon dan Hapcheon kami mengikuti kegiatan Tripitaka Festival. Kebetulan di dua tempat ini hanya diselenggarakan parade dan single performance tanpa kejuaraan. Di dua tempat ini kami bertemu dengan kawan dari Taiwan dan Singapura. Disini (Hapcheon) kami festival tanpa penonton dan itu bener-bener wasting time banget. Kami sempat kesal dengan panitia, namun kekesalan kami terobati dengan adanya parade di Sancheon lalu kembali perform di Hapcheon. Lalu esoknya perform di atas panggung. Dan diakhiri dengan Tracking menuju Buddha Temple Hein Sa yang katanya temple buddha pertama (bocoran, orang korea seneng banget menyebut mereka yang pertama). Selama kami di festival pertama hampir setiap hari diguyur hujan dari mulai sedang sampai berat dengan suasana pagi yang diselimuti kabut. Karena hujan tiap hari, akhirnya mau ga mau baju kita dicuci dan karena kami gak pernah ketemu sama matahari, jdinya kami ngeringin baju dengan hair dryer hahahahaha. Oh iya, tempat kami menginap yaitu Gaya San Hotel. Dekat dengan National Park.
Tips 2: kalian bener-bener harus prepare segala macem termasuk perhitungan musim. Alangkah baiknya kalau kalian kebetulan berangkat dipenghujung musim gugur, baiknya prepare payung atau raincoat. Juga bekal ganti sepatu atau sandal.

Selanjutnya tibalah kami di acara Cheonan World Dance Festival 2013. Bertempat di Cheonan dan Seoul. Hurricane Hotel adalah tempat persinggahan kami menghadapi kejuaraan tahunan ini. Kebetulan saat itu ada belasan negara yang ikut ajang ini, diantaranya:
1. Korea Selatan (sebagai tuan rumah sekaligus peserta namun diikutsertakan dalam kejuaraan tuan rumah)
2. Indonesia 1
3. Indonesia 2
4. Jepang 1
5. Jepang 2
6. Mexico 1
7. Mexico 2
8. Philiphine
9. Taiwan
10. China
11. India
12. Poland
13. Czech
14. France
15. Buryatia
16. Bashkortostan
17. Malaysia
18. Singapura
19. Guam
Disini kami melalui beberapa tahap, yaitu Opening Ceremony, Parade, Penyisihan 10 menit, kunjungan dan pengenalan budaya, dan Final sekaligus Closing Ceremony.
Parade dilaksanakan dua kali di Cheonan dan satu kali di Myongdong, Seoul. Dan hasil dari jerih payah kami, dihargai dengan peringkat empat. Dan semua diobati dengan tracking menuju Namsan Tower, belanja di Namdaemun, serta bertukar cinderamata termasuk saya mendapat syal dari entah itu Buryatia atau France entahlah saya lupa hahahaha. Setiap hari suhu disini hampir tak lebih dari 14 derajat bahkan bisa sampai 4 derajat. Mungkin Bandung dan Puncak Bogor pun kadang tidak sampai segitu. Hahaha

Sekelumit kisah dari Korea Selatan, entah kenapa jadi bertekad balik lagi kesana. Untuk foto menyusul! Hehehe

Minggu, 20 Januari 2013

Topeng Panji


Topeng Cirebon merupakan kesenian khas yang berasal dari Cirebon (atau Indramayu) percabangan dari seni tari. Topeng Cirebon merupakan khasanah budaya Cirebon yang sangat kental dengan filosofi hidup dan realita watak kehidupan manusia. Pada zaman Kerajaan Majapahit antara 1300 dan 1400 Masehi kesenian topeng sangat digandrungi sebagaitarian untuk raja. Lalu pada tahun 1525 pasca runtuhnya kerajaan Majapahit, kesenian ini dilanjutkan oleh Sultan Demak dengan titik penyebarannya hingga Kasultanan Cirebon.

Dalam prakteknya sebenarnya Topeng Cirebon menampilkan hampir 5 penampilan dalam setiap pertunjukkan bukan hanya satu tarian. Struktur kehidupan dan realita watak manusialah yang mendasari penciptaan Topeng Cirebon yang tersusun dari Panji, Pamindo, Rumyang, Patih dan Klana. Untuk saat ini saya akan membahas tentang Panji.

Panji merupakan Topeng Cirebon paling pertama ditampilkan. Hikayat Panji mencerminkan bersatunya empat kerajaan dari segala penjuru: Kerajaan Singasari (Utara), Kerajaan Blambangan (Timur), Gegelang (Barat), dan Daha (Selatan). Panji sendiri sebenarnya berasal dari kata siji, yang dalam bahasa Jawa berarti satu. Ia adalah gambaran bayi yang baru lahir ke dunia, figur dewa dan raja, sekaligus cermin dari sublimasi kewibawaan, ketenangan, yang berada di pusat atau tengah. Tariannya cenderung diam atau statis, tetapi diiringi suara musik yang hingar-bingar, hingga disebut sebagai tarian dan karakter yang penuh dengan nilai-nilai paradoksial.

Dalam aspek ornamennya, motif dan hiasan terlihat pada rupa topeng pada umumnya berupa stilasi bunga-bunga dan sulur-sulur seperti kembang kliyang atau bunga tiba, yang berada di tengah-tengah dahi, diatas alis, dan disebut urna. Urna ini hanya terdapat di Panji dan Patih. Keadaan topeng Panji sebagai karakter pertama sekaligus pusat, arah muka dari samping memperlihatkan kondisi yang cenderung menunduk dan luruh. Dikatakan bahwa Panji merupakan sosok paling suci yang berada di alam ruhani dari surga, di pusat, yang mewakili semua sifat yang ada di empat penjuru mata angin. Sosok seperti ini dianggap sebagai tingkatan keimanan tertinggi manusia, yang secara hierarkis merupakan dunia ruhani dan jasmani. Arah wajah panji yang merunduk adalah pertanda bahwa ia sedang atau akan turun dari alam surgawi menuju alam manusia, dan kedatangannya bersifat sakral. Dalam penampangannya, Panji memiliki mata yang terlihat kecil, menyipit, cenderung melipat ke bawah dan bola matanya pun hanya sedikit terlihat bentuk matanya bisa disebut liyep. Menunjukkan tingkat kesempurnaan sosoknya, dan tatapan matanya yang mengarah ke bawah menyiratkan keberadaannya yang berasal dari dunia atas tetapi telah hadir pula di dunia bawah. Hidung Panji digambarkan lurus, kecil dan lancip. Karena semakin membesar bentuk hidungnya, dan semakin mancung, mengarah kedepan dengan posisi mendongak, itu semakin mendekati karakter yang gagah atau kuat. Mulut dan bibir panji bisa dilihat lebih tipis, dalam kondisi tersenyum, tertutup, dengan barisan gigi yang terlihat sedikit.

Dalam warna sebenarnya sudah umum jika kita melihat warna-warna gelap sedikit menciptakan suasana yang negatif, sedangkan jika kita berbicara warna terang akan menciptakan suasana positif dan bernilai kebaikan. Panji yang berwarna putih melambangkan kebaikan, kesucian, berasaskan alam surgawi, tenang, jujur dan tidak mementingkan dirinya sendiri. Ini berasaskan pula pada konsepsi orang Sunda yang mengenal Buana Panca Tengah yang mengadopsi perlambangan dari alam dan arah mata angin, putih adalah warna buana atas. Gerakan-gerakan kecil pada tari panji lebih merefleksikan perilaku waspada dan perilaku manusia yang baru lahir.